Jumat, 04 Januari 2013

FRUSTASI KARENA CINTA

Oleh Yang Mulia Bhikkhu K Sri Dhammananda Nayaka Mahathera

Dalam dunia ini, adalah tidak mungkin untuk memenuhi seluruh keinginan kita.
Tak perduli bagaimana kuat dan berpengaruhnya seseorang, ia akan tetap mengalami frustrasi. Ia akan menginginkan sesuatu yang tidak dimilikinya. Ketika ia telah memilikinya, ia menginginkan yang lebih banyak atau sesuatu yang lainnya lagi. Keinginan yang tak terpuaskan adalah wajar bagi
setiap insan di dunia ini. Dalam kenyataannya, keinginan akan cinta orang lain selalu menimbulkan frustrasi. Jika seseorang jatuh cinta dan mengetahui bahwa perasaannya tidak terbalas, ia menjadi patah hati. Hal ini sering terjadi di kalangan muda. Bahkan keadaan yang sudah jelas menyenangkan dapat berubah secara
tiba-tiba. Sebagai contoh: * Siapa yang menikahi gadis itu? Suatu ketika seorang pemuda sangat mencintai seorang gadis dari kota lain. Setiap hari ditulisnya surat yang panjang kepada sang gadis, untuk mengutarakan cintanya. Setelah mengirim tidak kurang dari ratusan surat, pemuda ini mengalami hal yang menyakitkan, sang gadis jatuh cinta dan menikah dengan tukang pos yang
mengantarkan surat-surat tersebut. Sejumlah orang jatuh cinta pada pandangan pertama dan tetap bahagia sampai akhir hidup mereka. Sedang yang
lainnya jatuh cinta pada pandangan pertama, hanya untuk menyadari bahwa ia hanya tergila-gila dan menyesalinya kemudian. Tetapi kebanyakan, cinta
membutuhkan waktu untuk berkembang. Karena itu, jika cinta tidak cepat berkembang, seseorang jangan terlalu mudah kecil hati. Ada pepatah menyatakan bahwa seorang pengecut
tidak pernah memikat hati seorang wanita cantik. Artinya bahwa seseorang yang terlalu cepat putus asa tidak akan dapat menikah dengan gadis yang
diinginkannya. Sejumlah orang dapat bertingkah laku secara dewasa dan perlahan-lahan menarik perhatian orang lain dengan keramahan, pengertian, ketabahan dan kasih sayang untuk
sesama. Orang tidak boleh seenaknya atau egois dalam mengungkapkan perasaannya. Bagaimanapun, perasaan manusia, seperti juga semua yang ada di alam, akan berubah. Jika seseorang dapat bertingkah laku baik, selalu ada
kesempatan bahwa lawan jenisnya akan menyadari sifat-sifat baiknya dan timbul rasa simpati terhadap orang tersebut, tapi kesemuanya ini memerlukan waktu. Tetapi harus ada batas dalam usaha
memikat hati lawan jenis, terutama jika
jawabannya sudah jelas ‘TIDAK’ dan orang tersebut seharusnya tidak menjadi ekstrim dalam mengutarakan cintanya. Seseorang seharusnya memberikan hak kepada orang lain untuk membuat
keputusannya sendiri dan menghormati keputusan tersebut. Tidak ada ketentuan bahwa cinta seseorang harus dibalas. Dalam keadaan dimana cinta seseorang tidak terbalas, jalan yang terbaik bagi kedua belah pihak adalah saling
mengharapkan kebahagiaan pada masa yang mendatang dan tetap sebagai teman tanpa menimbulkan gangguan apapun kepada pribadi masing-masing atau menyusahkan diri mereka sendiri. *

Guna-guna yang sangat
manjur

Suatu ketika seorang pemuda menginginkan gadis idamannya membalas cintanya. Pemuda ini
mencoba mengirimkan bunga-bunga dan hadiah- hadiah tetapi gadis tersebut tidak menanggapi. Setelah mencoba berbagai cara tetapi tetap gagal
untuk memikat gadis tersebut, akhirnya ia memikirkan sebuah rencana untuk memakai guna- guna cinta (pelet), dan ia pun pergi ke vihara untuk membujuk seorang bhikkhu untuk membuatkan
guna-guna tersebut untuknya. “Maaf, kami tidak membuat guna-guna cinta di sini”, sahut bhikkhu
itu. “Jika gadis tersebut tidak tertarik kepadamu, cobalah untuk mencari yang lain”. Tetapi pemuda tersebut bersikeras bahwa ia hanya menginginkan gadis itu. Karena tidak sanggup membujuknya
dengan nasihat, bhikkhu itu mencoba cara lain. “Baiklah”, katanya, “Bawalah minyak ini bersamamu. Ketika engkau bertemu dengannya pagi-pagi sekali oleskan pada dahinya”. Keesokan
harinya pemuda itu bangun pagi-pagi sekali, dengan tidak sabar menunggu gadis itu keluar dari rumahnya. Begitu ia keluar dengan sapu di tangan untuk menyapu halaman, pemuda itu lari
menghampirinya, mencelupkan jarinya kedalam botol minyak dan mengoleskannya pada dahi gadis
itu seperti yang diperintahkan oleh sang bhikkhu. Sang gadis itu tidak hanya merasa jijik, tetapi malah menjadi sangat marah, sehingga ia mengejar
pemuda itu, dan memukulnya dengan sapu. Pemuda itu mendapat pelajaran pahit tentang guna- guna cinta, dan memutuskan untuk mengalihkan
cintanya kepada gadis lain yang menyukainya. Akhirnya karena kejadian ini, ia menjadi cukup bijaksana untuk menikahi gadis yang benar-benar
mencintainya. *

Perceraian

Dalam setiap hubungan percintaan, selalu ada kemungkinan untuk bercerai. Hubungan yang seperti mimpi telah menjadi hambar dan kedua
pihak yang terlibat dapat melihat kedatang perpisahan itu. Dalam perceraian ada perasaanyang terluka, terutama apabila perasaan seseorang
telah terikat seluruhnya menjadi satu. Simpu perasaan harus diputuskan cepat atau lambat, dan setiap kali mereka diputuskan, pihak-pihak yang
terlibat akan sedikit berduka. Setiap orang harus menerima kenyataan bahwa untuk beberapa saat, ia akan mengalami perubahan yang tajam pada perasaannya. Ingatan terhadap hal-hal yang dikatakan atau dilakukan akan timbul secara tiba- tiba dan akan menimbulkan berbagai macam
perasaaan. Dalam keadaan demikian, sejumlah orang bertingkah laku seperti korban yang terluka. Jika tidak ada sesuatupun yang dapat dilakukan
untuk mencegah perceraian, hal yang pertama- tama harus dilakukan adalah menerimanya sebagai sesuatu yang tak dapat dihindarkan. Sebelum melakukannya, seseorang akan ‘lumpuh’, dengan pikiran yang terus menerus mempertanyakan bagaimana caranya untuk memperbaiki sesuatu yang tak dapat diperbaiki. Seseorang harus siap untuk menjalani beberapa tahapan emosi sebelum pulih akibat perceraian.
Pertama-tama akan terjadi goncangan. Sulit dipercaya bahwa perceraian telah terjadi, setelah itu harga dirinya akan jatuh. Ia merasa sangat malu, terutama kepada dirinya sendiri. Setelah
goncangan dan menemukan cara untuk
mengembalikan harga dirinya, ia harus
menghadapi kesepian dari kesendiriannya. Tetapi pada akhirnya ini akan berakhir juga. Tidak akan
menghilang dalam sehari atau seminggu, prosesnya memakan waktu, tetapi pasti akan berakhir. Selama
periode ini, ia harus mencoba setahap demi setahap. Jangan memikirkan yang telah lampau atau terlalu mengkhawatirkan masa mendatang.
Cara ini membantunya untuk melalui hari-hari yang sangat buruk. Dan kemudian, tanpa disadarinya, ia sudah tidak dipengaruhi lagi oleh perceraian, dan benar-benar bebas kembali. Dia
harus menghindari dari melakukan kebodohan selama waktu penyesuaian. Sering kita membaca dari koran-koran yang memuat tragedi-tragedi
seperti bunuh diri, kekerasan dan pembunuhan yang dilakukan oleh orang-orang yang patah hati. Ada sebuah kasus mengenai seorang pemuda yang
terjun ke sungai dan tenggelam, dengan surat-surat cintanya yang terbungkus rapi dalam sebuah kantong plastik tersimpan di kantongnya. Ia patah
hati karena kekasihnya memutuskan untuk menikah dengan laki-laki lain. Pemuda ini melakukan bunuh diri secara fisik. Banyak orang melakukan
pembunuhan perasaannya, dengan menjadi gila karena frustrasi dan sangat kecewa dengan hubungan cinta yang putus. Sedang yang lainnya tidak mau menikah atau jatuh cinta lagi setelah
hubungan cintanya kandas. Mengapa orang-orang harus mengalami penderitaan ini? Tidak lain karena mereka tidak mempunyai pengertian tentang ketidak-pastian hidup dan karena itu
terperangkap dalam pergolakan perasaan. Mereka memperkuat ikatan kasih sayang dan memupuk harapan-harapan yang tidak masuk akal.
Seseorang yang lebih mengerti alam kehidupan ini akan mengetahui bahwa hidup dipengaruhi oleh delapan keadaan duniawi. Seperti ombak di samudra demikianlah delapan keadaan ini
berpengaruh. Saat yang menyenangkan akan disambut dengan tangan terbuka, dan saat yang tidak menyenangkan agak sulit untuk dipikul. Seperti sebuah pendulum yang berayun ke depan
dan belakang, keadaan yang diinginkan dan tak diinginkan berlaku di dunia ini dari setiap orang tanpa kecuali harus menghadapinya. Seseorang
dapat menikmati keuntungan, tetapi untuk setiap keuntungan juga ada bahaya kerugian. Seperti terjadi pada popularitas, pujian dan kebahagiaan,
yang bisa menimbulkan resiko negatifnya, yaitu: difitnah, dicela dan menderita. Bagaimanapun, setiap kejadian akan membawa harapan bahwa
keadaan akan berubah menjadi lebih baik. Suatu kerugian dapat menjadi dasar untuk keuntungan yang akan datang, sementara ketidak-terkenalan
dapat berubah menjadi terkenal, celaan menjadi pujian, dan penderitaan menjadi kebahagiaan. Itulah ketidak-tetapan keadaan duniawi. Dan persoalan cinta juga merupakan keadaan duniawi. Cinta antara dua manusia dapat tumbuh secara mendalam dan dewasa, bersikap saling memberi, saling menghormati dan saling berbagi rasa. Tetapi juga dapat menjadi hambar bila pihak-pihak yang
terlibat saling mengabaikan atau ketika keadaannya yang berubah tanpa ada satu pihak pun yang salah. Salah satu cara untuk menghibur penderitaan batin
yang mendalam atau frustasi adalah dengan membandingkan kadar/tingkat penderitaan dan kesulitan kita dengan yang dialami oleh orang- orang lain. Anda menyangka bahwa dunia akan
kiamat. Tetapi, jika anda mencoba untuk melihat penderitaan orang lain dan mencoba untuk menghitung berkah-berkah yang anda dapatkan, anda akan terkejut menyaksikan betapa banyak
orang yang lebih menderita daripada anda. Singkatnya, anda telah terlalu membesar-besarkan penderitaan anda. Banyak yang lebih menderita daripada anda, tetapi mereka tidak terlalu
mengkhawatirkannya. Metoda lain untuk mengatasi persoalan anda adalah mengingat apa yang pernah anda alami dengan keadaan yang sama atau lebih
buruk daripada persoalan anda yang sekarang dan bagaimana anda, dengan kesabaran dan usaha anda dapat mengatasi kesulitan anda. Dengan demikian anda tidak akan membiarkan persoalan anda ‘menenggelamkan’ anda. Sebaliknya anda akan menyiapkan cara untuk menyelesaikan setiap persoalan yang anda hadapi. Anda harus menyadari bahwa anda telah melewati situasi yang lebih buruk dan anda telah siap dalam menghadapi persoalan apapun. Dengan pikiran seperti itu, anda
segera akan memperoleh kembali kepercayaan diri anda dan akan dapat menghadapi dan menyelesaikan setiap persoalan anda.

Kamis, 03 Januari 2013

Naksir Anak Dapat Ibunya

Saat itu aku Ronny masih kuliah dan saya
mempunyai teman karib namanya Mona, dari
Sumatera, dia menumpang di rumah tantenya.
Kebetulan antara saya dan Mona mempunyai hoby
yang sama, naik gunung, lintas alam, atletik,
lempar lembing. Saya sering bertandang ke
rumahnya, makin lama makin sering. Karena saya
juga naksir sama Rita, adik sepupu Mona atau anak
tantenya. Walau saya sudah menjadi akrab dengan
keluarganya, tapi Rita tak kunjung kupacari.
Setelah selesai SMA Mona melanjutkan studi di
Kota lain, tapi aku mencoba untuk bertandang ke
rumah Rita, tapi jarang ketemu.
Namun perjalanan waktu menentukan lain bagi
Rita, ayahnya yang wakil rakyat itu meninggal.
Sekarang ini ibunya mencari nafkah sendiri dengan
memegang beberapa perusahaannya yang memang
sudah dirintis cukup lama, sebelum terpilih
menjadi wakil rakyat. Harapanku memacari Rita
tetap ada di dada, walaupun saat aku berkunjung,
justru bu Ita (ibunya Rita/tantenya Mona) yang
sering menemuiku. karena Rita ada kesibukan di
Jakarta, sehubungan dengan keikutsertaannya
dalam sekolah presenter di sebuah stasion teve
swasta di sana. Tapi sebenarnya kalau mau jujur
Rita masih kalah dengan ibunya. Bu Ita lebih
cantik.,kulitnya lebih putih bersih, dewasa dan
tenang pembawaannya. Sementara Rita agak sawo
matang, nurun ayahnya kali? Seandainya Rita
seperti ibunya: tenang pembawaannya, keibuan
dan penuh perhatian, baik juga.
Sekarang, di rumah yang cukup mewah itu hanya
ada bu Ita dan seorang pembantu. Mona sudah
tidak di situ, sementara Rita sekolah di ibukota,
paling-paling seminggu pulang. Akhirnya saya di
suruh bu Ita untuk membantu sebagai karyawan
tidak tetap mengelola perusahaannya. Untungnya
saya memiliki kemampuan di bidang komputer dan
manajemennya, yang saya tekuni sejak SMA.
Setelah mengetahui manajemen perusahaan bu Ita
lalu saya menawari program akuntansi dan
keuangan dengan komputer, dan bu Ita setuju
bahkan senang. Merencanakan kalkulasi biaya
proyek yang ditangani perusahaannya, dsb. Saya
menyukai pekerjaan ini. Yang jelas bisa menambah
uang saku saya, bisa untuk membantu kuliah, yang
saat itu baru semester dua. Bu Ita memberi honor
lebih dari cukup menurut ukuran saya. Pegawai bu
Ita ada tiga cewek di kantor, tambah saya, belum
termasuk di lapangan. Saya sering bekerja setelah
kuliah, sore hingga malam hari, datang menjelang
pegawai yang lain pulang. Itupun kalau ada proyek
yang harus dikerjakan. Part time begitu. Bagi saya
ini hanya kerja sambilan tapi bisa menambah
pengalaman.
Karena hubungan kerja antara majikan dan
pegawai, hubungan saya dengan bu Ita semakin
akrab. Semula sih biasa saja, lambat-laun seperti
sahabat, curhat, dan sebagainya. Aku sering
dinasehati, bahkan saking akrabnya, bercanda, saya
sering pegang tangannya, mencium tangan, tentu
saja tanpa diketahui rekan kerja yang lain. Dan
rupanya dia senang. Tapi aku tetap menjaga
kesopanan. Pengalaman ini yang mendebarkan
jantungku, betapapun dan siapapun bu Ita, dia
mampu menggetarkan dadaku. Walaupun sudah
cukup umur wanita ini tetap jelita. Saya kira
siapapun orangnya pasti mengatakan orang ini
cantik bahkan cantik sekali. Dasar pandai merawat
tubuh, karena ada dana untuk itu, rajin fitnees, di
rumah disediakan peralatannya. Kalau sedang
fitnees memakai pakaian fitnees ketat sangat sedap
dipandang. Ini sudah saya ketahui sejak saya SMA
dulu, tapi karena saya kepingin mendekati Rita, hal
itu saya kesampingkan. Data-data pribadi bu Ita
saya tahu betul karena sering mengerjakan biodata
berkaitan dengan proyek-proyeknya. Tingginya 161
cm, usianya saat kisah ini terjadi 37 tahun, lima
bulan dan berat badannya 52 kg. Cukup ideal.
Pada suatu hari saya lembur, karena ada pekerjaan
proyek dan paginya harus didaftarkan untuk
diikutkan tender. Pukul 22.00 pekerjaan belum
selesai, tapi aku agak terhibur bu Ita mau
menemaniku, sambil mengecek pekerjaanku. Dia
cukup teliti. Kalau kerja lembur begini ia malah
sering bercanda. Bahkan kalau minumanku habis
dia tidak segan-segan yang menuang kembali, aku
malah menjadi kikuk. Dia tak enggan pegang
tanganku, mencubit, namun aku tak berani
membalas. Apalagi bila sedang mencubit dadaku
aku sama sekali tidak akan membalas. Dan yang
cukup surprise tanpa ragu memijit-pijit bahuku dari
belakang.
“Capek ya..? Saya pijit, nih”, katanya.
Aku hanya tersenyum, dalam hati senang juga,
dipijit janda cantik. Apalagi yang kurasakan
dadanya, pasti teteknya menyenggol kepalaku
bagian belakang, saya rasakan nyaman juga. Lama-
lama pipiku sengaja saya pepetkan dengan
tangannya yang mulus, dia diam saja. Dia
membalas membelai-belai daguku, yang tanpa
rambut itu. Aku menjadi cukup senang. Hampir
pukul 23.00 baru selesai semua pekerjaan, saya
membersihkan kantor dan masih dibantu bu Ita.
Wah wanita ini betul-betul seorang pekerja keras,
gumanku dalam hati.
Saya bersiap-siap untuk pulang, tapi dibuatkan
kopi, jadi kembali minum.
“Kamu sudah punya pacar Ron?”
“Belum Bu”, jawabku
“Masa.., pasti kamu sudah punya. Cewek mana
yang tak mau dengan cowok ganteng”, katanya
“Belum Bu, sungguh kok”, kataku lagi. Kami duduk
bersebelahan di sofa ruang tengah, dengan
penerangan yang agak redup. Entah siapa yang
mendahului, kami berdua saling berpegangan
tangan saling meremas lembut. Yang jelas semula
saya sengaja menyenggol tangannya…
Mungkin karena terbawa suasana malam yang
dingin dan suasana ruangan yang syahdu, dan
terdengar suara mobil melintas di jalan raya serta
sayup-sayup suara binatang malam, saya dan bu Ita
hanyut terbawa oleh suasana romantis. Bu Ita yang
malam itu memakai gaun warna hitam dan sedikit
motif bunga ungu. Sangat kontras dengan warna
kulitnya yang putih bersih. Wanita pengusaha ini
makin mendekatkan tubuhnya ke arahku. Dalam
kondisi yang baru aku alami ini aku menjadi sangat
kikuk dan canggung, tapi anehnya nafasku makin
memburu, kejar-kejaran dan bergelora seperti
gemuruh ombak di Pelabuhan Ratu. Saya menjadi
bergemetaran, dan tak mampu berbuat banyak,
walau tanganku tetap memegang tangannya.
“Dingin ya Ron..?!”, katanya sendu.
Sementara tangan kiriku ditarik dan mendekap
lengan kirinya yang memang tanpa lengan baju itu.
“Ya, Bu dingin sekali”, jawabku.
Terasa dingin, sementara tangannya juga
merangkul pinggangku. Bau wewanginan semerbak
di sekitar, aku duduk, menambah suasana romantis
“Kalau ketahuan Darti (pembantunya), gimana
Bu?”, kataku gemetar.
“Darti tidak akan masuk ke sini, pintunya terkunci”,
katanya.
Saya menjadi aman. Lalu aku mencoba mengecup
kening wanita lincah ini, dia tersenyum lalu dia
menengadahkan wajahnya. Tanpa diajari atau
diperintah oleh siapapun, kukecup bibir indahnya.
Dia menyambut dengan senyuman, kami saling
berciuman bibir saling melumat bibir, lidah kami
bertemu berburu mencari kenikmatan di setiap
sudut-sudut bibir dan rongga mulut masing-masing.
Tangankupun mulai meraba-raba tubuh sintal bu
Ita, diapun tidak kalah meraba-raba punggungku
dan bahkan menyusup dibalik kaosku. Aku menjadi
semakin terangsang dalam permainan yang indah
ini.
Sejenak jeda, kami saling berpandangan dia
tersenyum manis bahkan amat manis, dibanding
waktu-waktu sebelumnya. Kami berangkulan
kembali, seolah-olah dua sejoli yang sedang mabuk
asmara sedang bermesraan, padahal antara
majikan dan pegawainya. Dia mulai mencumi
leherku dan menggigit lembut semantara tanganku
mulai meraba-raba tubuhnya, pertama pantatnya,
kemudian menjalar ke pinggulnya.
“Sejak kamu kesini dengan Mona dulu, saya sudah
berpikir: “Ganteng banget ini anak!”", katanya
setengah berbisik.
“Ah ibu ada-ada saja”, kataku mengelak walaupun
saya senang mendapat sanjungan.
“Saya tidak merayu, sungguh”, katanya lagi.
Kami makin merangsek bercumbu, birahiku makin
menanjak naik, dadaku semakin bergetar, demikian
juga dada bu Ita. Diapun nampak bergetaran dan
suaranya agak parau.
Kemudian saya beranjak, berdiri dan menarik
tangan bu Ita yang supaya ikut berdiri. Dalam
posisi ini dia saya dekap dengan hangatnya. Hasrat
kelakianku menjadi bertambah bangkit dan terasa
seakan membelah celana yang saya pakai. Lalu
saya bimbing dia ke kamarnya, bagai kerbau
dicocok hidungnya bu Ita menurut saja. Kami
berbaring bersama di spring bed, kembali kami
bergumul saling berciuman dan becumbu.
“Gimana kalau saya tidur di sini saja, Bu”, pintaku
lirih.
Ia berpikir sejenak lalu mengangguk sambil
tersenyum. Kemudian dia beranjak menuju lemari
dan mengambil pakaian sambil menyodorkan
kepada saya.
“Ini pakai punyaku”, dia menyodorkan pakaian
tidur.
Lalu aku melorot celana panjangku dan kaos
kemudian memakai kimononya.
Aku menjadi terlena. Dalam dekapannya aku
tertidur. Baru sekitar setengah jam saya terbangun
lagi. Dalam kondisi begini, jelas aku susah tidur.
Udara terasa dingin, saya mendekapnya makin
kencang. Dia menyusupkan kaki kanannya di
selakangan saya. Penisku makin bergerak-gerak,
sementara cumbuan berlangsung, penisku semakin
menjadi-jadi kencangnya, yang sesungguhnya sejak
tadi di sofa.
Aku berpikir kalau sudah begini bagaimana?
Apakah saya lanjutkan atau diam saja? Lama aku
berfikir untuk mengatakan tidak! Tapi tidak bisa
ditutupi bahwa hasrat, nafsu birahiku kuat sekali
yang mendorong melonjak-lonjak dalam dadaku
bercampur aduk sampai kepada ubun-ubunku.
Walaupun aku diamkan beberapa saat, tetap saja
kejaran libido yang terasa lebih kuat. Memang saya
sadar, wanita yang ada didekapanku adalah
majikanku, tantenya Mona, mamanya Rita, tapi
sebagai pria normal dan dewasa aku juga
merasakan kenikmatan bibir dan rasa perasaan bu
Ita sebagai wanita yang sintal, cantik dan
mengagumkan. Sedikitnya aku sudah merasakan
kehangatannya tubuhnya dan perasaannya, meski
pengalaman ini baru pertama kali kualami.
Aku tak kuasa berkeputusan, dalam kondisi seperti
ini aku semakin bergemetaran, antara mengelak
dan hasrat yang menggebu-gebu. Aku perhatikan
wajahnya di bawah sorot lampu bed, sengaja saya
lihat lama dari dekat, wajahnya memancarkan
penyerahan sebagai wanita, di depan lelaki
dewasa. Pelan-pelan tanganku menyusup di balik
gaunnya, meraba pahanya dia mengeliat pelan,
saya tidak tahu apakah dia tidur atau pura-pura
tidur. Aku cium lembut bibirnya, dan dia
menyambutnya. Berarti dia tidak tidur. Ku singkap
gaun tidurnya kemudian kulepas, dia memakai
beha warna putih dan cedenya juga putih. Aku
menjadi tambah takjub melihat kemolekan tubuh
bu Ita, putih dan indah banget. Ku raba-raba
tubuhnya, dia mengeliat geli dan membuka
matanya yang sayu. Jari-jari lentiknya menyusup
ke balik baju tidur yang kupakai dan menarik
talinya pada bagian perutku, lalu pakaianku
terlepas. Kini akupun hanya pakai cede saja.
“Kamu ganteng banget, Ron, tinggi badanmu
berapa, ya?”, bisiknya. Saya tersenyum senang.
“Makasih. Ada 171. Bu Ita juga cantik sekali”,
mendengar jawabanku, dia hanya tersenyum.
Aku berusaha membuka behanya dengan membuka
kaitannya di punggungnya, kemudian keplorotkan
cedenya sehingga aku semakin takjub melihat
keindahan alam yang tiada tara ini. Hal ini
menjadikan dadaku semakin bergetar. Betapa
tidak?! Aku berhadapan langsung dengan wanita
tanpa busana yang bertubuh indah, yang selama ini
hanya kulihat lewat gambar-gambar orang asing
saja. Kini langsung mengamati dari dekat sekali
bahkan bisa meraba-raba. Wanita yang selama ini
saya lihat berkulit putih bersih hanya pada bagian
wajah, bagian kaki dan bagian lengan ini, sekarang
tampak seluruhnya tiada yang tersisa.
Menakjubkan! Darahku semakin mendidih, melihat
pemandangan nan indah itu. Di saat saya masih
bengong, pelan-pelan aku melorot cedeku, saya
dan bu Ita sama-sama tak berpakaian. Penisku
benar-benar maksimal kencangnya. Kami berdua
berdekapan, saling meraba dan membelai. Kaki
kami berdua saling menyilang yang berpangkal di
selakangan, saling mengesek. Penisku yang kencang
ikut membelai paha indah bu Ita. Sementara itu ia
membelai-belai lembut penisku dengan tangan
halusnya, yang membawa efek nikmat luar biasa.
generasi
Tanganku membela-belai pahanya kemudian
kucium mulai dari lutut merambat pelan ke
pangkal pahanya. Ia mendesah lembut. Dadaku
makin bergetaran karena kami saling mencumbu,
aku meraba selakangannya, ada rerumputan di
sana, tidak terlalu lebat jadi enak dipandang. Dia
mengerang lembut, ketika jemariku menyentuh
bibir vaginanya. Mulutku menciumi payudaranya
dengan lembut dan mengedot puntingnya yang
berwarna coklat kemerah-merahan, lalu
membenamkan wajahku di antara kedua susunya.
Sementara tangan kiriku meremas lembut teteknya.
Desisan dan erangan lembut muncul dari mulut
indahnya. Aku semakin bernafsu walau tetap
gemetaran. Tanganku mulai aktif memainkan
selakangannya, yang ternyata basah itu. Saya
penasaran, lalu kubuka kedua pahanya, kemudian
kusingkap rerumputan di sekitar kewanitaannya.
Bagian-bagian warna pink itu aku belai-belai
dengan jemariku. Klitorisnya, ku mainkan,
menyenangkan sekali. Bu Ita mengerang lembut
sambil menggerakkan pelan kaki-kakinya. Lalu
jariku kumasukkan keterowongan pink tersebut dan
menari-nari di dalamnya. Dia semakin
bergelincangan. Kelanjutannya ia menarikku.
“Ayo Ron”aku tak tahan”, katanya berbisik
Dan merangkulku ketat sekali, sehingga bagian
yang menonjol di dadanya tertekan oleh dadaku.
Aku mulai menindih tubuh sintal itu, sambil
bertumpu pada kedua siku-siku tanganku, supaya ia
tidak berat menompang tubuhku. Sementara itu
senjataku terjepit dengan kedua pahanya. Dalam
posisi begini saja enaknya sudah bukan main,
getaran jantungku makin tidak teratur. Sambil
menciumi bibirnya, dan lehernya, tanganku
meremas-remas lembut susunya. Penisku
menggesek-gesek sekalangannya, ke arah atas
(perut), kemudian turun berulang-ulang Tak lama
kemudian kakinya direnggangkan, lalu pinggul
kami berdua beringsut, untuk mengambil posisi
tepat antara senjataku dengan lubang
kewanitaannya. Beberapa kali kami beringsut, tapi
belum juga sampai kepada sasarannya. Penisku
belum juga masuk ke vaginanya
“Alot juga”, bisikku. Bu Ita yang masih di bawahku
tersenyum.
“Sabar-sabar”, katanya. Lalu tangannya memegang
penisku dan menuntun memasukkan ke arah
kewanitaannya.
“Sudah ditekan… pelan-pelan saja”, katanya.
Akupun menuruti saja, menekan pinggulku…
“Blesss”, masuklah penisku, agak seret, tapi tanpa
hambatan. Ternyata mudah! Pada saat masuk
itulah, rasa nikmatnya amat sangat. Seolah aku
baru memasuki dunia lain, dunia yang sama sekali
baru bagiku. Aku memang pernah melihat film
orang beginian, tetapi untuk melakukan sendiri
baru kali ini. Ternyata rasanya enak, nyaman,
mengasyikkan. Wonderful! Betapa tidak, dalam
usiaku yang ke 23, baru merasakan kehangatan dan
kenikmatan tubuh wanita.
Gerakanku mengikuti naluri lelakiku, mulai naik-
turun, naik-turun, kadang cepat kadang lambat,
sambil memandang ekspresi wajah bu Ita yang
merem-melek, mulutnya sedikit terbuka, sambil
keluar suara tak disengaja desah-mendesah.
Merasakan kenikmatannya sendiri.
“Ah… uh… eh… hem”"
Ketika aku menekankan pinggulku, dia menyambut
dengan menekan pula ke atas, supaya penisku
masuk menekan sampai ke dasar vaginanya.
Getaran-getaran perasaan menyatu dengan leguhan
dan rasa kenikmatan berjalan merangkak sampai
berlari-lari kecil berkejar-kejaran. Di tengah
peristiwa itu bu Ita berbisik
“Kamu jangan terlalu keburu nafsu, nanti kamu
cepat capek, santai saja, pelan-pelan, ikuti
iramanya”, ketika saya mulai menggenjot dengan
semangatnya.
“Ya Bu, maaf”, akupun menuruti perintahnya.
Lalu aku hanya menggerakkan pinggulku ala
kadarnya mengikuti gerakan pinggulnya yang
hanya sesekali dilakukan. Ternyata model ini lebih
nyaman dan mudah dinikmati. Sesekali kedua
kakinya diangkat dan sampai ditaruh di atas
bahuku, atau kemudian dibuka lebar-lebar, bahkan
kadang dirapatkan, sehingga terasa penisku terjepit
ketat dan semakin seret. Gerak apapun yang kami
lakukan berdua membawa efek kenikmatan
tersendiri. Setelah lebih dari sepuluh menit , aku
menikmati tubuhnya dari atas, dia membuat suatu
gerakan dan aku tahu maksudnya, dia minta di
atas.
Aku tidur terlentang, kemudian bu Ita mengambil
posisi tengkurap di atasku sambil menyatukan alat
vital kami berdua. Bersetubuhlah kami kembali.Ia
memasukkan penisku rasanya ketat sekali
menghujam sampai dalam. Sampai beberapa saat
bu Ita menggerakkan pinggulnya, payudaranya
bergelantungan nampak indah sekali, kadang
menyapu wajahku. Aku meremas kuat-kuat
bongkahan pantatnya yang bergoyang-goyang.
Payudaranya disodorkan kemulutku, langsung
kudot. Gerakan wanita berambut sebahu ini makin
mempesona di atas tubuhku. Kadang seperti orang
berenang, atau menari yang berpusat pada gerakan
pinggulnya yang aduhai. Bayang-bayang gerakan
itu nampak indah di cermin sebelah ranjang.
Tubuh putih nan indah perempuan setengah baya
menaiki tubuh pemuda agak coklat kekuning-
kuningan. Benar-benar lintas generasi!
Adegan ini berlangsung lebih dari lima belas menit,
kian lama kian kencang dan cepat, gerakannya.
Nafasnya kian tidak teratur, sedikit liar. Kayak
mengejar setoran saja. Tanganku mempererat
rangulanku pada pantat dan pinggulnya, sementara
mulutku sesekali mengulum punting susunya.
Rasanya enak sekali. Setelah kerja keras majikanku
itu mendesah sejadi-jadinya”
“Ah… uh, eh… aku, ke.. luaar..Ron..”, rupanya ia
orgasme.
Puncak kenikmatannya diraihnya di atas tubuhku,
nafasnya berkejar-kejaran, terengah-engah
merasakan keenakan yang mencapai klimaknya.
Nafasnya berkejar-kejaran, gerakannya lambat laun
berangsur melemah, akhirnya diam. Ia menjadi
lemas di atasku, sambil mengatur nafasnya
kembali. Aku mengusap-usap punggung mulusnya.
Sesekali ia menggerak-gerakkan pinggulnya pelan,
pelan sekali, merasakan sisa-sisa puncak
kenikmatannya. Beberapa menit dia masih
menindih saya.
Setelah pulih tenaganya, dia tidur terlentang
kembali, siap untuk saya tembak lagi. Kini giliran
saya menindihnya, dan mulai mengerjakan
kegiatan seperti tadi. Gerakan ku pelan juga, dia
merangkul aku. Naik turun, keluar masuk. Saat
masuk itulah rasa nikmat luar biasa, apalagi dia
bisa menjepit-jepit, sampai beberapa kali. Sungguh
aku menikmati seluruhnya tubuh bu Ita. Ruaar
biasa! Tiba-tiba suatu dorongan tenaga yang kuat
sampai diujung senjataku, aliran darah, energi dan
perasaan terpusat di sana, yang menimbulkan
kekuatan dahsyat tiada tara. Energi itu menekan-
nekan dan memenuhi lorong-lorong rasa dan
perasaan, saling memburu dan kejar-kejaran.
Didorong oleh gairah luar biasa, menimbulkan efek
gerakan makin keras dan kuat menghimpit tubuh
indah, yang mengimbangi dengan gerakan gemulai
mempesona. Akhirnya tenaga yang menghentak-
hentak itu keluar membawa kenikmatan luar
biasa”, suara tak disengaja keluar dari mulut dua
insan yang sedang dilanda kenikmatan. Air maniku
terasa keluar tanpa kendali, menyemprot
memenuhi lubang kenikmatan milik bu Ita.
“Ahh… egh… egh… uhh”, suara kami bersaut-
sahutan.
Bibir indah itu kembali kulumat makin seru, diapun
makin merapatkan tubuhnya terutama pada bagian
bawah perutnya, kuat sekali. Menyatu semuanya,
“Aku” keluar Bu”, kataku terengah-engah.
“Aku juga Ron”, suaranya agak lemah.
“Lho keluar lagi, tadi kan sudah?! Kok bisa keluar
lagi?!”, tanyaku agak heran.
“Ya, bisa dua kali”, jawabnya sambil tersenyum
puas.
Kami berdua berkeringat, walau udara di luar
dingin. Rasanya cukup menguras tenaga, bagai
habis naik gunung saja, lempar lembing atau habis
dari perjalanan jauh, tapi saya masih bisa
merasakan sisa-sisa kenikmatan bersama. Selang
beberapa menit, setelah kenikmatan berangsur
berkurang, dan terasa lembek, saya mencabut
senjataku dan berbaring terlentang di sisinya
sambil menghela nafas panjang. Puas rasanya
menikmati seluruh kenikmatan tubuhnya.
Perempuan punya bentuk tubuh indah itupun
terlihat puas, seakan terlepas dari dahaganya, yang
terlihat dari guratan senyumnya. Saya lihat
selakangannya, ada ceceran air maniku putih
kental meleleh di bibir vaginanya bahkan ada yang
di pahanya. Pengalaman malam itu sangat
menakjubkan, hingga sampai berapa kali aku
menaiki bu Ita, aku lupa. Yang jelas kami beradu
nafsu hampir sepanjang malam dan kurang tidur.
Keesokan harinya. Busa-busa sabun memenuhi
bathtub, aku dan bu Ita mandi bersama, kami
saling menyabun dan menggosok, seluruh sisi-sisi
tubuhnya kami telusuri, termasuk bagian yang
paling pribadi. Yang mengasyikkan juga ketika dia
menyabun penisku dan mengocok-kocok lembut.
Saya senang sekali dan sudah barang tentu
membawa efek nikmat.
“Saya heran barang ini semalaman kok tegak terus,
kayak tugu Monas, besar lagi. Ukuran jumbo
lagi?!”, katanya sambil menimang-nimang tititku.
“Kan Ibu yang bikin begini?!”, jawabku. Kami
tersenyum bersama.
Sehabis mandi, kuintip lewat jendela kamar, Darti
sedang nyapu halaman depan, kalau aku keluar
rumah tidak mungkin, bisa ketahuan. Waktu baru
pukul setengah enam. Tetapi senjata ini belum juga
turun, tiba-tiba hasrat lelakiku kembali bangkit
kencang sekali. Kembali meletup-letup, jantung
berdetak makin kencang. Lagi-lagi aku mendekati
janda yang sudah berpakaian itu, dan kupeluk,
kuciumi. Saya agak membungkuk, karena aku lebih
tinggi. Bau wewangian semerbak disekujur
tubuhnya, rasanya lebih fresh, sehabis mandi. Lalu
ku lepas gaunnya, ku tanggalkan behanya dan
kuplorotkan cedenya. Kami berdua kembali
berbugil ria dan menuju tempat tidur. Kedua insan
lelaki perempuan ini saling bercumbu, mengulangi
kenikmatan semalam.
Ia terbaring dengan manisnya, pemandangan yang
indah paduan antara pinggul depan, pangkal paha,
dan rerumputan sedikit di tengah menutup samara-
samar huruf “V”, tanpa ada gumpalan lemaknya.
Aku buka dengan pelan kedua pahanya. Aku ciumi,
mulai dari lutut, kemudian merambat ke paha
mulusnya. Sementara tangannya mengurut-urut
lembut penisku. Tubuhku mulai bergetaran, lalu
aku membuka selakangannya, menyibakkan
rerumputan di sana. Aku ingin melihat secara jelas
barang miliknya. Jariku menyentuh benda yang
berwarna pink itu, mulai bagian atas membelai-
belainya dengan lembut, sesekali mencubit dan
membelai kembali. Bu Ita bergelincangan,
tangannya makin erat memegang tititku. Kemudian
jariku mulai masuk ke lorong, kemudian menari-
nari di sana, seperti malam tadi. Tapi bibir, dan
terowongan yang didominasi warna pink ini lebih
jelas, bagai bunga mawar yang merekah. Beberapa
saat aku melakukan permainan ini, dan menjadi
paham dan jelas betul struktur kewanitaan bu Ita,
yang menghebohkan semalam.
Gelora nafsu makin menggema dan menjalar
seantero tubuh kami, saling mencium dan
mencumbu, kian memanas dan berlari kejar-
kejaran. Seperti ombak laut mendesir-desir
menerpa pantai. Tiada kendali yang dapat
mengekang dari kami berdua. Apalagi ketika
puncak kenikmatan mulai nampak dan mendekat
ketat. Sebuah kejutan, tanpa aku duga sebelumnya
penisku yang sejak tadi di urut-urut kemudian
dikulum dengan lembutnya. Pertama dijilati
kepalanya, lalu dimasukkan ke rongga mulutnya.
Rasanya saya diajak melayang ke angkasa tinggi
sekali menuju bulan. Aku menjadi kelelahan. Sesi
berikutnya dia mengambil posisi tidur terlentang,
sementara aku pasang kuda-kuda, tengkurap yang
bertumpu pada kedua tangan saya. Saya mulai
memasukkan penisku ke arah lubang kewanitaan
bu Ita yang tadi sudah saya “pelajari” bagian-
bagiannya secara seksama itu. Benda ini memang
rasanya tiada tara, ketika kumasukkan, tidak hanya
saya yang merasakan enaknya penetrasi, tetapi
juga bu Ita merasakan kenikmatan yang luar biasa,
terlihat dari ekpresi wajahnya, dan desahan lembut
dari mulutnya.
“Ah”, desahnya setiap aku menekan senjataku ke
arah selakangannya, sambil menekankan pula
pinggulnya ke arah tititku. Kami berdua
mengulangi mengarungi samodra birahi yang
menakjubkan, pagi itu.
Semuanya sudah selesai, aku keluar rumah sekitar
pukul setengah delapan, saat Darti mencuci di
belakang. Dalam perjalanan pulang aku termenung,
Betapa kejadian semalam dapat berlangsung begitu
cepat, tanpa liku-liku, tanpa terpikirkan
sebelumnya. Sebuah wisata seks yang tak terduga
sebelumnya. Kenikmatan yang kuraih, prosesnya
mulus, semulus paha bu Ita. Singkat, cepat dan
mengalir begitu saja, namun membawa kenikmatan
yang menghebohkan. Betapa aku bisa merasakan
kehangatan tubuh bu Ita secara utuh, orang yang
selama ini menjadi majikanku. Menyaksikan rona
wajah bu Ita yang memerah jambu, kepasrahannya
dalam ketelanjangannya, menunjukkan kedagaan
seorang wanita yang mebutuhkan belaian dan
kehangatan seorang pria.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, si
kumbang muda makin sering mendatangi bunga
untuk mengisap madu. Dan bunga itu masih segar
saja, bahkan rasanya makin segar menggairahkan.
Memang bunga itu masih mekar dan belum juga
layu, atau memang tidak mau layu.

Rabu, 26 Desember 2012

Cerita Cinta Paling Romantis

Romeo dan Juliet


Adalah karya William Shakespeare yang sangat populer hingga saat ini. Dan, bagi sebagian besar orang, Valentine juga identik dengan roman Romeo dan Juliet.
Kisah cinta mereka dituliskan sebagai kisah cinta yang tragis, namun sekaligus melegenda. Ketika mereka saling jatuh cinta namun permasalahan keluarga di antaranya menjadi tembok penghalang
yang sulit untuk dilewati. Berbagai usaha telah dicoba untuk mempersatukan cinta mereka, namun pada akhirnya kematian menjadi penutup kisah cinta sejati ini.


Cleopatra dan Mark Antony


Masih ditulis oleh William Shakespeare, cerita cinta sejati antara Cleopatra dan Mark Antony digambarkan secara detail dari jaman Mesir Kuno. Di mana mereka jatuh cinta pada pandangan pertama namun pada jaman itu perebutan kekuasaan dan kelicikan sangatlah kental terasa. Cleopatra dan Antony sama-sama memegang tongkat kekuasaan di Mesir. Saat Antony bertarung di medan perang, ia mendengar berita buruk bahwa
Cleopatra telah meninggal. Berita tersebut memukul hatinya dan ia memutuskan untuk bunuh diri.
Cleopatra yang sebenarnya masih hidup dan dikabarkan meninggalpun terkejut, iapun mengakhiri hidupnya demi kekasih yang dicintainya.


Paris dan Helena


Cerita ini sebenarnya merupakan bagian kecil dari Helen of Troy dan Trojan war, sebuah pergolakan heroik di jaman Yunani kuno. Dikatakan bahwa cerita ini merupakan kombinasi dari kisah nyata
dan fiksi. Dan Helen adalah sosok wanita tercantik pada saat itu. Kisah ini merupakan kisah cinta segitiga, antara Menelaus, Paris dan Helen. Paris yang terlanjur jatuh cinta pada kecantikan Helen merebut Helen dari tangan Menelaus. Tak mau dikalahkan, Menelaus menggelar perang dan
merebut kembali Helen dari Paris. Di sana, Paris terbunuh dan Helen akhirnya hidup berbahagia bersama Menelaus.


Lancelot dan Guinevere


Kisah cinta tragis lainnya adalah kisah dari Sir Lancelot dan Ratu Guinevere. Diceritakan bahwa Lancelot jatuh cinta pada istri Raja Arthur, dan tak disangka sang Ratu juga jatuh cinta padanya.
Pada awalnya sang Ratu berusaha menghindar, namun kekagumannya pada Lancelot menyeretnya pada sebuah affair. Pada suatu hari, keponakan Raja Arthur mengetahui hubungan mereka dan bermaksud membakar ruangan di mana mereka biasa bertemu secara diam-diam. Lancelot dapat lolos dari serangan tersebut, sayangnya Sang Ratu
tidak. Sang Ratupun diadili dan memutuskan menjadi seorang biarawan. Lancelot yang berusaha menyelamatkan kekasihnya pada akhirnya ikut diadili oleh raja. Iapun mengakhiri hidupnya
sebagai pertapa kesepian hingga ia meninggal dalam kepedihan cintanya.


Tristan dan Isolde



Kisah ini tak kalah tragisnya dari kisah cinta lain, di mana Isolde adalah seorang putri dari raja di Irlandia yang telah bertunangan dengan Raja Mark dari Cornwall. Pada suatu hari Mark mengirim
Tristan, keponakannya untuk mengawal Isolde ke Cornwall. Di tengah jalan mereka jatuh cinta, namun Isolde tetap harus menikahi Mark. Setelah pernikahan mereka, cinta terlarang itu terus
berlanjut sampai akhirnya Raja Mark
mengetahuinya. Mark kemudian memaafkan Isolde dan mengusir Tristan ke Brittany. Di sana, ia tertarik pada Iseult yang namanya hampir mirip dengan Isolde. Ia menikahinya tetapi ia tak
bahagia. Pada suatu hari Tristan sakit keras, dan ia mengirim pesan bahwa hanya Isolde yang bisa menyembuhkannya. Ia mengirimkan dua buah kapal ke Cornwall, apabila Isolde setuju datang ia akan menaiki kapal berwarna putih, namun bila ia menolak maka kapal berwarna hitam yang dikirim
kembali. Iseult terbakar api cemburu, iapun membohongi Tristan dengan mengatakan bahwa Isolde mengirim kapal berwarna hitam. Tristan sangat kecewa dan mati karena patah hati.
Mendengar kabar tersebut Isoldepun menyusul kematian Tristan karena kesedihannya yang mendalam.


Orpheus dan Eurydice



Orpheus dan Eurydice adalah sebuah legenda Yunani kuno yang menceritakan sebuah kisah sedih. Mereka jatuh cinta pada pandangan pertama dan saling mencintai, merekapun menikah. Namun
Aristaeus, dewa bumi dan pertanian jatuh cinta pada Eurydice. Ia mengejarnya hingga Eurydice berlari sampai ke sebuah sarang ular Eurydicepun meninggal. Orpheus memainkan lagu sedih dan pujaan kepada para dewa dan memohon setulus hatinya pada Hades dan Persephone sebagai dewa neraka untuk mengembalikan istrinya. Merasa
tersentuh akhirnya Orpheus diijinkan membawa istrinya kembali ke dunia, syaratnya hanya satu, ia tak boleh menoleh kepada istrinya sebelum ia
sampai ke bumi. Karena ragu dan khawatir, sebelum sampai ke bumi Orpheus menoleh kepada istrinya. Di sanalah, istrinya menghilang untuk
kedua kalinya, namun kali ini untuk selama- lamanya.


Napoleon dan Josephine



Adalah kisah cinta yang membingungkan dan dipenuhi dengan cerita tentang kekuasaan. Josephine adalah wanita dewasa yang sangat mapan dan kaya raya. Napoleon adalah sosok
ambisius dan pada usia ke-26 ia menikahi Josephine. Mereka saling jatuh cinta namun juga tak dapat menampik bahwa mereka sama-sama punya ambisi atas kekuasaan. Karena saling menghargai satu sama lain, akhirnya mereka memutuskan untuk berpisah. Dan merekapun menyimpan serta mengubur dalam-dalam rasa
cintanya di dalam hati untuk selama-lamanya.


Odysseus dan Penelope




Sebuah kisah cinta sejati yang melambangkan kesetiaan. Karena perang, Odysseus harus meninggalkan istrinya yang cantik jelita. Tak kunjung mendapat kabar dari suaminya, 108 pria
melamar Penelope, namun ia menolak. Ia percaya bahwa suatu saat suaminya akan kembali. Dan Odysseus sendiri tak pernah tergoda akan kecantikan wanita lain. Merekapun akhirnya bertemu kembali setelah 20 tahun berpisah.


Paolo dan Francesca



Cerita cinta mereka ditulis kembali oleh Dante. Dan diceritakan bahwa Paolo jatuh cinta pada Francesca, yang juga kakak iparnya. Cerita ini terinspirasi dari kisah nyata, di mana Gianciotto Malatesta yang menyebalkan, menikahi Francesca. Di tengah pernikahannya, Paolo dan Francesca sering bertemu di perpustakaan dan membaca bersama. Seiring kebersamaannya mereka saling
jatuh cinta, terutama setelah membaca cerita Lancelot dan Guinevere. Mengetahui affair yang terjadi pada istri dan adiknya, Gianciotto marah
besar dan membunuh mereka berdua.


Thiebe dan Pyramus


Adalah kisah cinta dari dua orang sahabat, Pyramus dan Thiebe. Pyramus adalah sosok tertampan dan Thiebe adalah gadis tercantik di Babylonia. Sekalopun sudah mengenal sejak kecil,
namun hubungan mereka ditentang oleh kedua orangtua. Tak kuasa menahan perasaan, suatu malam mereka berjanji untuk bertemu di sebuah
kebun mulberry. Thiebe datang lebih awal dan bertemu dengan seekor singa yang baru saja menyantap makanannya. Mulutnya penuh dengan darah dan seringainya mengerikan. Karena takut,
Thiebe berlari dan bersembunyi ke balik bebatuan. Tak sengaja, ia menjatuhkan selendangnya dan sang singa membawa pergi selendang tersebut. Pyramus yang datang belakangan mendapati seekor singa membawa selendang kekasihnya
dengan mulut berlumuran darah. Ia sedih dan patah hati, ia yakin bahwa kekasihnya sudah mati diserang oleh singa itu. Iapun menghunuskan pedang ke dadanya, dan menghembuskan nafas
terakhir. Setelah meyakinkan diri bahwa kondisinya sudah aman, Thiebe keluar dari persembunyiannya dan mencari Pyramus. Ia terkejut, melihat Pyramus
telah berbaring dengan pedang di dadanya. Tak kuasa menahan sedih, diambilnya pedang tersebut dan dihunuskan ke tubuhnya.

TV

Live TV Indonesia 1.8 yayınlandı > https://market.android.com/details?id=tr.gen.hyper.tv.live.indonesia

Kisah Unik Blair

Masih Ingat sama Tony Blair? Mantan perdana menteri Inggris yang selalu taat pada Amerika itu kini mempunyai hobby yang unik. Sebagaimana dikutip di www.roomwithabrew.com Tony Blair mengatakan: Saya membaca Al Quran Setiap Hari. Kenapa saya bilang unik? Karena tanpa disangka seorang perdana menteri yang dahulu sering makmum (ngikut ) kepada Amerika dalam penyerangan Iraq, Afganistan dan negeri2 muslim lainnya, kini menunjukkan ketertarikannya pada Al-Qur’an ( The Koran). Sebagaimana tertulis juga di www.bbc.co.uk “Ex-Prime
Minister Tony Blair urged people to read the Koran, not burn it”. Jika tidak salah terjemahannya adalah “Mantan Perdana menteri Inggris Tony Blair mendesak
orang2 untuk membaca Al-Qur’an dan tidak membakarnya”. Hal ini sebagai tanggapan dari perintah Pastor Terry Jones, yang memimpin jemaat di
kota Gainesville-Florida dengan 50 pengikutnya, memerintahkan untuk membakar Al-Qur’an pada peringatan serangan 9 September. Padahal sebelumnya, mantan Perdana Menteri Inggris yang tinggal di Downing Street Nomor 10 ini dikenal sebagai orang yang enggan untuk berbicara tentang
agama. Namun, setelah mengundurkan diri dari jabatannya pada 2007, Blair menjadi lebih terbuka tentang agama dan keimanan. Yang akhirnya Dia
memeluk agama Katolik beberapa bulan sebelum meninggalkan kediaman resmi perdana menteri. Dan saat ini Blair mengaku kegiatannya setelah pensiun
adalah membaca Al-Qur’an setiap hari.
Menurut dia, dengan membaca kitab suci Islam – yang diyakini umat Islam sebagai kata-kata diwahyukan
oleh Allah secara langsung – bisa dipastikan bahwa dia sekarang menjadi ‘melek agama’. Dalam sebuah wawancara dengan media Observer,
diterbitkan kemarin, Blair mengatakan “Menjadi ‘keyakinan literasi’ sangat penting dalam dunia yang semakin global, itulah yang saya percaya,” katanya, seperti dimuat Daily Mail, Senin 13 Juni, 2011. ( sorry terjemahan via google ) “Aku membaca Al Quran setiap hari. Sebagian untuk memahami beberapa hal yang terjadi di dunia, dan di
jelaskan dalam (Quran) dengan sangat instruktif. “ dan Blair sebelumnya memuji Islam sebagai agama “indah” dan mengatakan Nabi Muhammad adalah ‘penguasa beradab’. Pada tahun 2006, dia juga memuji Al-Quran sebagai “buku reformasi ‘, inklusif, dibesarkan untuk membenci ilmu pengetahuan dan takhayul. Buku ini juga berisi petunjuk praktis bagaimana menjalankan pernikahan, serta pemerintah.
Namun, Blair menyesalkan bagaimana kelimpok militan yang menafsirkan Al-Qur’an sebagai panggilan untuk menyerang dan membunuh. Masih terngiang di ingatannya pada 7 Juli 2005, ketika ia masih perdana menteri, bom teroris mengoyak London. 52 orang tak berdosa tewas. Tidak hanya Blair yang tertarik dalam Islam. Dalam hukum, Lauren Booth, membuat pengumuman
mengejutkan. Booth telah memeluk Islam setelah mengalami apa yang dia digambarkan sebagai ‘pengalaman’ spiritual ‘ketika mengunjungi Masjid di
Iran.(sorry terjemahan hanya via google )
“Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Quran dan Kami jugalah yang memeliharanya.” (QS: al-Hijir : 9)
Wallahu a’lam Bisshowab….

Tips Menghilangkan Jerawat

http://inspireblogger.com/kesehatan/cara-menghilangkan-bekas-jerawat/

Cerita Cinta

LOVE STORY
Kisah ini berawal dari pertemuan seorang wanita
dengan lelaki yang sama-sama sedang melaksanakan
sebuah kegiatan kemah. Jin itulah nama lelaki
sedangkan Sinta nama wanita tersebut. Mereka
berbeda sekolah tetapi karena memang kegiatan kemah
bakti tersebut dilaksakan secara serempak oleh semua
SMA maka mereka akhirnya sama-sama bertemu di
perkemahan tersebut.
Letak tempat kemah Jin dan Sinta tersebut sebenarnya
cukup jauh, tetapi karena mereka sering apel pagi
bersama seluruh siswa, akhirnya tatapan-tatapan
kecilpun tidak terhindari. Perlahan Jin mulai berani
mendekati Sinta jika ada waktu senggang istirahat.
Tetapi belum berani untuk berkenalan, Jin hanya
tersenyum kecil jika lewat didepan Sinta. Akhirnya
setelah beberapa kali bertemu dan saling melempar
senyum, mereka berkenalan.
"Hei, hari ini panas banget ya?"
"Iya panas nih, mungkin karena gunung ini udah
gundul kali ya, makanya panas."
"Anyway, kita belum kenalan kan? Nama aku Jin.
Nama kamu siapa?"
"Namaku Sinta"
Begitulah proses perkenalan mereka yang sangat
singkat tersebut akhirnya membuat keduanya semakin
dekat dari hari kehari.
Kemah sudah hampir satu minggu mereka laksanakan,
dan keduanya juga semakin akrab. Sampai akhirnya
mereka berdua harus terpisah karena kegiatan kemah
telah usai. Tetapi kemah berakhir atau tepatnya di
acara Malam Keakraban, Jin sengaja berada disamping
Sinta agar jika mereka tidak bertemu lagi, maka tidak
ada kesedihan karena rasa rindu.
"Sin, klo
kegiatan ini
udah kelar, kita
masih bisa
ketemu lagi ga
ya?" Tanya Jin.
"Aku juga ga
tau Jin, tetapi
klo emang kita
ga bisa ketemu
lagi, gimana?"
Jawab Sinta.
"Yang pasti aku
bakal
kehilangan
kamu banget"
Jin terlihat
sedih dengan mengatakan hal tersebut.
Begitulah malam keakraban mereka lalui dengan
kesedihan karena kemah akan usai besok dan mereka
akan segera kembali kerumah masing-masing.
Esok hari pun tiba, saat dimana mereka harus segera
persiapan untuk pulang. Jin yang masih merasakan
sedih akhirnya memiliki niat untuk menembak Sinta
untuk dijadikannya seorang pacar, agar mereka bisa
terus bertemu jika keduanya telah sama-sama sudah
kembali kerumah. Didekatinya Sinta yang saat itu
sedang mengepak pakaiannya.
"Boleh ngomong sebentar ga?" Jin mendekat.
"Boleh, ngomong aja Jin, ada apa?" Sinta berdiri dan
mendekat ke Jin yang ada di luar camp.
"Tapi ga disini, bisa kita kedepan sebentar?"
"Oh, yaudah yuk!"
Mereka berdua kedepan camp dan disitulah Jin
mengatakan bahwa dia saya kepada Sinta. Akhirnya
mereka berdua telah menjadi sepasang kekasih karena
Sinta ternyata juga menyukai Jin.
Dengan bertukar no handphone dan alamat rumah,
mereka berharap akan bisa menjalin hubungan yang
langgeng nantinya.
============================================================================
Kegiatan camp sudah berlalu sekitar 2 hari, Sinta dan
Jin juga seperti biasa melakukan aktifitasnya masing-
masing dengan tetap saling menjaga komunikasi
mereka berdua.
Sejak hari pertama mereka sampai dirumah, Jin sudah
main kerumah Sinta. Dia juga berkenalan dengan orang
tuanya yang terlihat sangat ramah kepada Jin.
"Tau ga aku bawa apa?" Tanya Jin
"Bawa apaan sih, kok repot-repot?" Sinta seakan
melarang Jin membawa sesuatu.
"Merem dulu dong, nanti baru aku kasih surprisenya"
"Oke, deeehhh..."
"SURPISEEEEE....!!!"
"Ya ampun Jin kok sampe segitunya sih" Jawab Sinta
yang terlihat bahagia karena dibawakan sebuah bonek
pink yang lucu.
Begitulah kejadian hari pertama yang sangat berkesan
untuk keduanya karena sudah 2 hari sejak camp
mereka tidak bertemu.
Sejak hari pertama itulah Jin menawarkan Sinta untuk
menjemputnya tiap hari jika berangkat kesekolah.
Mereka tersenyum bahagia setiap hari karena bertemu
dan bercanda bersama. Rasa sayang dan cinta
semakin dalam mereka rasakan satu sama lain.
Sampai dengan hari ke 56 mereka bersama atau
tepatnya hampir 2 bulan bersama memadu kasih dan
cinta berdua. Tidak lupa Jin juga selalu membawa
sebuah boneka tiap hari mereka bertemu.
Walaupun mereka berdua selalu bersama dan terlihat
bahagia, sedikitpun Jin tidak pernah mengatakan "Aku
Sayang Padamu" kepada Sinta. Sinta-pun merasa
semakin lama tidak nyaman karena hal tersebut.
Suatu ketika saat Jin main kerumahnya, Sinta berkata
kepada Jin.
"Jin, kamu sayang ga sih sama Sinta?"
"Ehmm, Aku....aku pulang dulu ya, ini bonekanya buat
kamu"
"Lho kok malah pulang"
Sinta tidak habis pikir, kenapa Jin tidak mau
mengatakan sayang kepada dirinya. Saat ditanya
sayang atau ga, malah Jin bergegas pulang. Sampai
terbesit dalam pikiran Sinta, apakah Jin tidak serius
sayang kepada dia ya?
Lalu tiba akhirnya Sinta yang akan merayakan hari
ulang tahunnya yang ke 17 tahun, dan besar harapan
Sinta agar Jin bisa datang ke hari tesebut. Karena ini
merupakan hari yang sangat penting bagi dirinya, Sinta
berpikir tentu Jin akan memberikan sebuah surprise
yang sangat indah sepanjang hidupnya.
Ulang tahun Sinta jatuh 2 hari lagi, dirinya terlihat
selalu bahagia saat bersama dengan Jin.
"Kamu kenapa sih kok senyum-senyum terus"
"Ah ga pa2 kok, cuma seneng aja"
"Oh"
Begitulah Jin yang terlihat sangat dingin menjawab
kebahagiaan Sinta. Lalu tiba saatnya ulang tahun
Sinta yang ke 17 yang tepat jatuh pada hari minggu.
Dengan mengenakan sebuah gaun pesta yang cantik,
Sinta menyambut semua tamu undangan yang pada
sore itu datang kerumahnya, karena memang acaranya
berlangsung pada sore hingga malam.
Sudah pukul 8 malam, Jin belum terlihat datang di
pesta ulang tahun Sinta. Dia mulai cemas dan berpikir
sesuatu yang buruk mungkin terjadi kepada Jin.
Waktu terus berjalan, dan semua tamupun telah pergi
karena acara telah usai. Sinta semakin cemas dan
tidak karuan karena Jin tidak kunjung tiba. Dia
mencoba menelpon ke no handphone Jin tetapi tidak
aktif.
Dengan perasaan campur aduk, Sinta terus menunggu
Jin yang belum datang tersebut. Sembari berdoa dia
juga berpikir, "Apa Jin lupa hari ulang tahunku?"
begitulah yang dipikirkan oleh dirinya.
Pagi pun tiba, Sinta yang saat itu tertidur di sofa depan
tidak menemukan Jin datang pada malam hari ulang
tahunnya. Sembari menangis karena kecewa akhirnya
Sinta segera mandi dan bergegas berangkat kesekolah.
Hari itu Jin tidak terlihat menjempur Sinta seperti
biasanya. Merasa aneh dan seakan masih kurang
percaya Jin lupa dengan hari ulang tahunnya, dia
akhirnya memutuskan untuk mampir kesekolah Jin
terlebih dahulu sebelum berangkat kesekolahnya.
Sesampainya di sekolah, apa yang Sinta temukan?
ternyata Jin sedang bercanda dengan teman-teman
wanitanya sembari tertawa seakan mereka akrab satu
sama lain. Sinta yang melihat pemandangan yang
menyakitkan tersebut akhirnya mendekati mereka dan
marah kepada Jin.
"Oh jadi gini ya kelakuan kamu selama ga sama aku?"
"Si..Sinta?"
Dengan marah Sinta segera bergegas pergi
meninggalkan mereka. Anehnya Jin tidak mengejar
Sinta yang marah karena peristiwa tersebut. Sinta yang
menangis saat itu seakan tidak diperdulikan oleh Jin.
Seharian dari sepulangnya Sinta dari sekolah, hanya
menangis karena sakit hati kepada Jin. Dari pagi
sampai malam dia hanya menangis terus menerus
dengan masih terpikir peristiwa tadi pagi saat Jin
bersama dengan wanita lain.
Sudah berkali-kali Jin menelpon tetapi Sinta
mengabaikan panggilan dari Jin tersebut dan berjanji
tidak akan pernah mau lagi bertemu dengan Jin
sampai kapanpun.
Lalu selang beberapa jam, bel sepeda motor berbunyi
dari luar rumah Sinta. Sinta yang saat itu memang
belum tidur mendapat pesan singkat yang berbunyi
"Tolong kamu keluar sebentar Sinta, aku mau ngomong
sama kamu".
Sinta yang memang sangat mencintai Jin akhirnya
tidak menolak untuk keluar rumah untuk menemui Jin
yang saat itu berada diluar rumah.
"Mau apa lagi kamu?! ga puas kamu udah nyakitin aku
hari ini" Tegas Sinta dengan nada tegas dan marah.
"Aku mau minta maaf sama kamu" Jawab Jin dengan
nada lemah.
"Maaf kata kamu?! kamu ga sadar sudah buat aku
sakit seperti ini?!"
"Sinta, aku...mau ngasih ini ke kamu...."
Jin membawa sebuah boneka besaaaar sekali yang
tidak biasanya boneka yang dia berikan kepada Sinta.
Tetapi Sinta semakin marah besar kepada Jin.
"Buat apa lagi kamu bawain boneka lagi ke aku? apa
dengan membawa boneka itu, aku akan memaafkan
kamu Jin? TIDAAAAKKK....!!!"
Dengan merebut bonek yang dipegang oleh Jin,
dibuangnya kejalan boneka tersebut.
Dengan perasaan sedih Jin kaget dan perlahan berjalan
menuju ke boneka tersebut berniat mengambilnya.
Tiba-tiba terdengar dari jarak jauh sebuah mobil yang
melaju kencang mengarah ke Jin yang tepat berada
ditengah sedang mengambil boneka tersebut.
Lalu...."BRAAAKKK...!!!!" Jin tertabrak dan Sinta
berteriak, TIDAAAAAKKKK....!!! JIIIINNNN.....!!!
Mobil tersebut menghempaskan tubuh Jin sampai
beberapa kilometer. Jin meninggal dunia seketika
karena pendarahan pada bagian kepalanya. Sinta
seketika itu pingsan dan orang-orang yang berada
disekitar segara mengamankan tubuh Jin yang sudah
tidak bernyawa lagi.
Jin telah tiada, hanya sebuah kenangan Sinta akan
kepedihan yang tidak akan pernah kembali untuk
selamanya. Sinta merasa sangat bersalah karena
dirinya lah yang menyebabkan kematian orang yang
paling dia sayangi.
Lalu sembari menangis, dia kembali mencoba
mengenang semua kenangan indah bersama dengan
Jin. Dilihatnya sekeliling kamar sambil meneteskan air
mata, kamar yang penuh dengan boneka-boneka
pemberian Jin. Dengan bertambah sedih Sinta memeluk
boneka tersebut erat-erat, tiba-tiba "I LOVE YOU..." "I
LOVE YOU..."
"hah?" Sinta kaget...
Dari perut boneka tersebut berbunyi "I LOVE YOU" Lalu
Sinta mulai memencet perut boneka lainnya lalu, "I
LOVE YOU" semakin tidak percaya dipencet lah semua
perut boneka pemberian dari Jin yang berjumlah 59
boneka tersebut. Semakin deras air mata Sinta,
"kenapa aku ga sadar klo selama ini Jin selalu ingin
mengatakan cinta kepadaku lewat boneka-boneka yang
ia berikan kepadaku?"
Lalu Sinta mengambil boneka yang paling besar dan
merupakan boneka yang ke-60 pemberian Jin kepada
dirinya sebelum jin meninggal. Dipencetnya pula perut
dari boneka tersebut. Lalu terdengarlah rekaman suara
Jin, dia mengatakan seperti ini"
"Sudah 60 hari kita bersama Sinta, tetapi sampai hari
ini pun aku belum bisa mengatakan kata cinta
kepadamu. Tiap hari aku berharap bahwa boneka ini
bisa mewakili kata cintaku tersebut untuk dirimu, tetapi
ternyata kamu tidak pernah menyadarinya. Aku tahu
bahwa aku adalah seorang pengecut, tetapi yang perlu
kamu tahu kalau aku....cinta....kamu sampai akhir
hayatku"
Begitulah rekaman suara Jin yang dia berikan sesaat
sebelum Jin kecelakaan dan merenggut dirinya. Sinta
menangis dan tidak pernah akan mendapatkan kembali
sosok Jin yang ternyata sangat-sangat mencintainya.
------------------------------------------ SELESAI

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Online Project management