Kamis, 03 Januari 2013

Naksir Anak Dapat Ibunya

Saat itu aku Ronny masih kuliah dan saya
mempunyai teman karib namanya Mona, dari
Sumatera, dia menumpang di rumah tantenya.
Kebetulan antara saya dan Mona mempunyai hoby
yang sama, naik gunung, lintas alam, atletik,
lempar lembing. Saya sering bertandang ke
rumahnya, makin lama makin sering. Karena saya
juga naksir sama Rita, adik sepupu Mona atau anak
tantenya. Walau saya sudah menjadi akrab dengan
keluarganya, tapi Rita tak kunjung kupacari.
Setelah selesai SMA Mona melanjutkan studi di
Kota lain, tapi aku mencoba untuk bertandang ke
rumah Rita, tapi jarang ketemu.
Namun perjalanan waktu menentukan lain bagi
Rita, ayahnya yang wakil rakyat itu meninggal.
Sekarang ini ibunya mencari nafkah sendiri dengan
memegang beberapa perusahaannya yang memang
sudah dirintis cukup lama, sebelum terpilih
menjadi wakil rakyat. Harapanku memacari Rita
tetap ada di dada, walaupun saat aku berkunjung,
justru bu Ita (ibunya Rita/tantenya Mona) yang
sering menemuiku. karena Rita ada kesibukan di
Jakarta, sehubungan dengan keikutsertaannya
dalam sekolah presenter di sebuah stasion teve
swasta di sana. Tapi sebenarnya kalau mau jujur
Rita masih kalah dengan ibunya. Bu Ita lebih
cantik.,kulitnya lebih putih bersih, dewasa dan
tenang pembawaannya. Sementara Rita agak sawo
matang, nurun ayahnya kali? Seandainya Rita
seperti ibunya: tenang pembawaannya, keibuan
dan penuh perhatian, baik juga.
Sekarang, di rumah yang cukup mewah itu hanya
ada bu Ita dan seorang pembantu. Mona sudah
tidak di situ, sementara Rita sekolah di ibukota,
paling-paling seminggu pulang. Akhirnya saya di
suruh bu Ita untuk membantu sebagai karyawan
tidak tetap mengelola perusahaannya. Untungnya
saya memiliki kemampuan di bidang komputer dan
manajemennya, yang saya tekuni sejak SMA.
Setelah mengetahui manajemen perusahaan bu Ita
lalu saya menawari program akuntansi dan
keuangan dengan komputer, dan bu Ita setuju
bahkan senang. Merencanakan kalkulasi biaya
proyek yang ditangani perusahaannya, dsb. Saya
menyukai pekerjaan ini. Yang jelas bisa menambah
uang saku saya, bisa untuk membantu kuliah, yang
saat itu baru semester dua. Bu Ita memberi honor
lebih dari cukup menurut ukuran saya. Pegawai bu
Ita ada tiga cewek di kantor, tambah saya, belum
termasuk di lapangan. Saya sering bekerja setelah
kuliah, sore hingga malam hari, datang menjelang
pegawai yang lain pulang. Itupun kalau ada proyek
yang harus dikerjakan. Part time begitu. Bagi saya
ini hanya kerja sambilan tapi bisa menambah
pengalaman.
Karena hubungan kerja antara majikan dan
pegawai, hubungan saya dengan bu Ita semakin
akrab. Semula sih biasa saja, lambat-laun seperti
sahabat, curhat, dan sebagainya. Aku sering
dinasehati, bahkan saking akrabnya, bercanda, saya
sering pegang tangannya, mencium tangan, tentu
saja tanpa diketahui rekan kerja yang lain. Dan
rupanya dia senang. Tapi aku tetap menjaga
kesopanan. Pengalaman ini yang mendebarkan
jantungku, betapapun dan siapapun bu Ita, dia
mampu menggetarkan dadaku. Walaupun sudah
cukup umur wanita ini tetap jelita. Saya kira
siapapun orangnya pasti mengatakan orang ini
cantik bahkan cantik sekali. Dasar pandai merawat
tubuh, karena ada dana untuk itu, rajin fitnees, di
rumah disediakan peralatannya. Kalau sedang
fitnees memakai pakaian fitnees ketat sangat sedap
dipandang. Ini sudah saya ketahui sejak saya SMA
dulu, tapi karena saya kepingin mendekati Rita, hal
itu saya kesampingkan. Data-data pribadi bu Ita
saya tahu betul karena sering mengerjakan biodata
berkaitan dengan proyek-proyeknya. Tingginya 161
cm, usianya saat kisah ini terjadi 37 tahun, lima
bulan dan berat badannya 52 kg. Cukup ideal.
Pada suatu hari saya lembur, karena ada pekerjaan
proyek dan paginya harus didaftarkan untuk
diikutkan tender. Pukul 22.00 pekerjaan belum
selesai, tapi aku agak terhibur bu Ita mau
menemaniku, sambil mengecek pekerjaanku. Dia
cukup teliti. Kalau kerja lembur begini ia malah
sering bercanda. Bahkan kalau minumanku habis
dia tidak segan-segan yang menuang kembali, aku
malah menjadi kikuk. Dia tak enggan pegang
tanganku, mencubit, namun aku tak berani
membalas. Apalagi bila sedang mencubit dadaku
aku sama sekali tidak akan membalas. Dan yang
cukup surprise tanpa ragu memijit-pijit bahuku dari
belakang.
“Capek ya..? Saya pijit, nih”, katanya.
Aku hanya tersenyum, dalam hati senang juga,
dipijit janda cantik. Apalagi yang kurasakan
dadanya, pasti teteknya menyenggol kepalaku
bagian belakang, saya rasakan nyaman juga. Lama-
lama pipiku sengaja saya pepetkan dengan
tangannya yang mulus, dia diam saja. Dia
membalas membelai-belai daguku, yang tanpa
rambut itu. Aku menjadi cukup senang. Hampir
pukul 23.00 baru selesai semua pekerjaan, saya
membersihkan kantor dan masih dibantu bu Ita.
Wah wanita ini betul-betul seorang pekerja keras,
gumanku dalam hati.
Saya bersiap-siap untuk pulang, tapi dibuatkan
kopi, jadi kembali minum.
“Kamu sudah punya pacar Ron?”
“Belum Bu”, jawabku
“Masa.., pasti kamu sudah punya. Cewek mana
yang tak mau dengan cowok ganteng”, katanya
“Belum Bu, sungguh kok”, kataku lagi. Kami duduk
bersebelahan di sofa ruang tengah, dengan
penerangan yang agak redup. Entah siapa yang
mendahului, kami berdua saling berpegangan
tangan saling meremas lembut. Yang jelas semula
saya sengaja menyenggol tangannya…
Mungkin karena terbawa suasana malam yang
dingin dan suasana ruangan yang syahdu, dan
terdengar suara mobil melintas di jalan raya serta
sayup-sayup suara binatang malam, saya dan bu Ita
hanyut terbawa oleh suasana romantis. Bu Ita yang
malam itu memakai gaun warna hitam dan sedikit
motif bunga ungu. Sangat kontras dengan warna
kulitnya yang putih bersih. Wanita pengusaha ini
makin mendekatkan tubuhnya ke arahku. Dalam
kondisi yang baru aku alami ini aku menjadi sangat
kikuk dan canggung, tapi anehnya nafasku makin
memburu, kejar-kejaran dan bergelora seperti
gemuruh ombak di Pelabuhan Ratu. Saya menjadi
bergemetaran, dan tak mampu berbuat banyak,
walau tanganku tetap memegang tangannya.
“Dingin ya Ron..?!”, katanya sendu.
Sementara tangan kiriku ditarik dan mendekap
lengan kirinya yang memang tanpa lengan baju itu.
“Ya, Bu dingin sekali”, jawabku.
Terasa dingin, sementara tangannya juga
merangkul pinggangku. Bau wewanginan semerbak
di sekitar, aku duduk, menambah suasana romantis
“Kalau ketahuan Darti (pembantunya), gimana
Bu?”, kataku gemetar.
“Darti tidak akan masuk ke sini, pintunya terkunci”,
katanya.
Saya menjadi aman. Lalu aku mencoba mengecup
kening wanita lincah ini, dia tersenyum lalu dia
menengadahkan wajahnya. Tanpa diajari atau
diperintah oleh siapapun, kukecup bibir indahnya.
Dia menyambut dengan senyuman, kami saling
berciuman bibir saling melumat bibir, lidah kami
bertemu berburu mencari kenikmatan di setiap
sudut-sudut bibir dan rongga mulut masing-masing.
Tangankupun mulai meraba-raba tubuh sintal bu
Ita, diapun tidak kalah meraba-raba punggungku
dan bahkan menyusup dibalik kaosku. Aku menjadi
semakin terangsang dalam permainan yang indah
ini.
Sejenak jeda, kami saling berpandangan dia
tersenyum manis bahkan amat manis, dibanding
waktu-waktu sebelumnya. Kami berangkulan
kembali, seolah-olah dua sejoli yang sedang mabuk
asmara sedang bermesraan, padahal antara
majikan dan pegawainya. Dia mulai mencumi
leherku dan menggigit lembut semantara tanganku
mulai meraba-raba tubuhnya, pertama pantatnya,
kemudian menjalar ke pinggulnya.
“Sejak kamu kesini dengan Mona dulu, saya sudah
berpikir: “Ganteng banget ini anak!”", katanya
setengah berbisik.
“Ah ibu ada-ada saja”, kataku mengelak walaupun
saya senang mendapat sanjungan.
“Saya tidak merayu, sungguh”, katanya lagi.
Kami makin merangsek bercumbu, birahiku makin
menanjak naik, dadaku semakin bergetar, demikian
juga dada bu Ita. Diapun nampak bergetaran dan
suaranya agak parau.
Kemudian saya beranjak, berdiri dan menarik
tangan bu Ita yang supaya ikut berdiri. Dalam
posisi ini dia saya dekap dengan hangatnya. Hasrat
kelakianku menjadi bertambah bangkit dan terasa
seakan membelah celana yang saya pakai. Lalu
saya bimbing dia ke kamarnya, bagai kerbau
dicocok hidungnya bu Ita menurut saja. Kami
berbaring bersama di spring bed, kembali kami
bergumul saling berciuman dan becumbu.
“Gimana kalau saya tidur di sini saja, Bu”, pintaku
lirih.
Ia berpikir sejenak lalu mengangguk sambil
tersenyum. Kemudian dia beranjak menuju lemari
dan mengambil pakaian sambil menyodorkan
kepada saya.
“Ini pakai punyaku”, dia menyodorkan pakaian
tidur.
Lalu aku melorot celana panjangku dan kaos
kemudian memakai kimononya.
Aku menjadi terlena. Dalam dekapannya aku
tertidur. Baru sekitar setengah jam saya terbangun
lagi. Dalam kondisi begini, jelas aku susah tidur.
Udara terasa dingin, saya mendekapnya makin
kencang. Dia menyusupkan kaki kanannya di
selakangan saya. Penisku makin bergerak-gerak,
sementara cumbuan berlangsung, penisku semakin
menjadi-jadi kencangnya, yang sesungguhnya sejak
tadi di sofa.
Aku berpikir kalau sudah begini bagaimana?
Apakah saya lanjutkan atau diam saja? Lama aku
berfikir untuk mengatakan tidak! Tapi tidak bisa
ditutupi bahwa hasrat, nafsu birahiku kuat sekali
yang mendorong melonjak-lonjak dalam dadaku
bercampur aduk sampai kepada ubun-ubunku.
Walaupun aku diamkan beberapa saat, tetap saja
kejaran libido yang terasa lebih kuat. Memang saya
sadar, wanita yang ada didekapanku adalah
majikanku, tantenya Mona, mamanya Rita, tapi
sebagai pria normal dan dewasa aku juga
merasakan kenikmatan bibir dan rasa perasaan bu
Ita sebagai wanita yang sintal, cantik dan
mengagumkan. Sedikitnya aku sudah merasakan
kehangatannya tubuhnya dan perasaannya, meski
pengalaman ini baru pertama kali kualami.
Aku tak kuasa berkeputusan, dalam kondisi seperti
ini aku semakin bergemetaran, antara mengelak
dan hasrat yang menggebu-gebu. Aku perhatikan
wajahnya di bawah sorot lampu bed, sengaja saya
lihat lama dari dekat, wajahnya memancarkan
penyerahan sebagai wanita, di depan lelaki
dewasa. Pelan-pelan tanganku menyusup di balik
gaunnya, meraba pahanya dia mengeliat pelan,
saya tidak tahu apakah dia tidur atau pura-pura
tidur. Aku cium lembut bibirnya, dan dia
menyambutnya. Berarti dia tidak tidur. Ku singkap
gaun tidurnya kemudian kulepas, dia memakai
beha warna putih dan cedenya juga putih. Aku
menjadi tambah takjub melihat kemolekan tubuh
bu Ita, putih dan indah banget. Ku raba-raba
tubuhnya, dia mengeliat geli dan membuka
matanya yang sayu. Jari-jari lentiknya menyusup
ke balik baju tidur yang kupakai dan menarik
talinya pada bagian perutku, lalu pakaianku
terlepas. Kini akupun hanya pakai cede saja.
“Kamu ganteng banget, Ron, tinggi badanmu
berapa, ya?”, bisiknya. Saya tersenyum senang.
“Makasih. Ada 171. Bu Ita juga cantik sekali”,
mendengar jawabanku, dia hanya tersenyum.
Aku berusaha membuka behanya dengan membuka
kaitannya di punggungnya, kemudian keplorotkan
cedenya sehingga aku semakin takjub melihat
keindahan alam yang tiada tara ini. Hal ini
menjadikan dadaku semakin bergetar. Betapa
tidak?! Aku berhadapan langsung dengan wanita
tanpa busana yang bertubuh indah, yang selama ini
hanya kulihat lewat gambar-gambar orang asing
saja. Kini langsung mengamati dari dekat sekali
bahkan bisa meraba-raba. Wanita yang selama ini
saya lihat berkulit putih bersih hanya pada bagian
wajah, bagian kaki dan bagian lengan ini, sekarang
tampak seluruhnya tiada yang tersisa.
Menakjubkan! Darahku semakin mendidih, melihat
pemandangan nan indah itu. Di saat saya masih
bengong, pelan-pelan aku melorot cedeku, saya
dan bu Ita sama-sama tak berpakaian. Penisku
benar-benar maksimal kencangnya. Kami berdua
berdekapan, saling meraba dan membelai. Kaki
kami berdua saling menyilang yang berpangkal di
selakangan, saling mengesek. Penisku yang kencang
ikut membelai paha indah bu Ita. Sementara itu ia
membelai-belai lembut penisku dengan tangan
halusnya, yang membawa efek nikmat luar biasa.
generasi
Tanganku membela-belai pahanya kemudian
kucium mulai dari lutut merambat pelan ke
pangkal pahanya. Ia mendesah lembut. Dadaku
makin bergetaran karena kami saling mencumbu,
aku meraba selakangannya, ada rerumputan di
sana, tidak terlalu lebat jadi enak dipandang. Dia
mengerang lembut, ketika jemariku menyentuh
bibir vaginanya. Mulutku menciumi payudaranya
dengan lembut dan mengedot puntingnya yang
berwarna coklat kemerah-merahan, lalu
membenamkan wajahku di antara kedua susunya.
Sementara tangan kiriku meremas lembut teteknya.
Desisan dan erangan lembut muncul dari mulut
indahnya. Aku semakin bernafsu walau tetap
gemetaran. Tanganku mulai aktif memainkan
selakangannya, yang ternyata basah itu. Saya
penasaran, lalu kubuka kedua pahanya, kemudian
kusingkap rerumputan di sekitar kewanitaannya.
Bagian-bagian warna pink itu aku belai-belai
dengan jemariku. Klitorisnya, ku mainkan,
menyenangkan sekali. Bu Ita mengerang lembut
sambil menggerakkan pelan kaki-kakinya. Lalu
jariku kumasukkan keterowongan pink tersebut dan
menari-nari di dalamnya. Dia semakin
bergelincangan. Kelanjutannya ia menarikku.
“Ayo Ron”aku tak tahan”, katanya berbisik
Dan merangkulku ketat sekali, sehingga bagian
yang menonjol di dadanya tertekan oleh dadaku.
Aku mulai menindih tubuh sintal itu, sambil
bertumpu pada kedua siku-siku tanganku, supaya ia
tidak berat menompang tubuhku. Sementara itu
senjataku terjepit dengan kedua pahanya. Dalam
posisi begini saja enaknya sudah bukan main,
getaran jantungku makin tidak teratur. Sambil
menciumi bibirnya, dan lehernya, tanganku
meremas-remas lembut susunya. Penisku
menggesek-gesek sekalangannya, ke arah atas
(perut), kemudian turun berulang-ulang Tak lama
kemudian kakinya direnggangkan, lalu pinggul
kami berdua beringsut, untuk mengambil posisi
tepat antara senjataku dengan lubang
kewanitaannya. Beberapa kali kami beringsut, tapi
belum juga sampai kepada sasarannya. Penisku
belum juga masuk ke vaginanya
“Alot juga”, bisikku. Bu Ita yang masih di bawahku
tersenyum.
“Sabar-sabar”, katanya. Lalu tangannya memegang
penisku dan menuntun memasukkan ke arah
kewanitaannya.
“Sudah ditekan… pelan-pelan saja”, katanya.
Akupun menuruti saja, menekan pinggulku…
“Blesss”, masuklah penisku, agak seret, tapi tanpa
hambatan. Ternyata mudah! Pada saat masuk
itulah, rasa nikmatnya amat sangat. Seolah aku
baru memasuki dunia lain, dunia yang sama sekali
baru bagiku. Aku memang pernah melihat film
orang beginian, tetapi untuk melakukan sendiri
baru kali ini. Ternyata rasanya enak, nyaman,
mengasyikkan. Wonderful! Betapa tidak, dalam
usiaku yang ke 23, baru merasakan kehangatan dan
kenikmatan tubuh wanita.
Gerakanku mengikuti naluri lelakiku, mulai naik-
turun, naik-turun, kadang cepat kadang lambat,
sambil memandang ekspresi wajah bu Ita yang
merem-melek, mulutnya sedikit terbuka, sambil
keluar suara tak disengaja desah-mendesah.
Merasakan kenikmatannya sendiri.
“Ah… uh… eh… hem”"
Ketika aku menekankan pinggulku, dia menyambut
dengan menekan pula ke atas, supaya penisku
masuk menekan sampai ke dasar vaginanya.
Getaran-getaran perasaan menyatu dengan leguhan
dan rasa kenikmatan berjalan merangkak sampai
berlari-lari kecil berkejar-kejaran. Di tengah
peristiwa itu bu Ita berbisik
“Kamu jangan terlalu keburu nafsu, nanti kamu
cepat capek, santai saja, pelan-pelan, ikuti
iramanya”, ketika saya mulai menggenjot dengan
semangatnya.
“Ya Bu, maaf”, akupun menuruti perintahnya.
Lalu aku hanya menggerakkan pinggulku ala
kadarnya mengikuti gerakan pinggulnya yang
hanya sesekali dilakukan. Ternyata model ini lebih
nyaman dan mudah dinikmati. Sesekali kedua
kakinya diangkat dan sampai ditaruh di atas
bahuku, atau kemudian dibuka lebar-lebar, bahkan
kadang dirapatkan, sehingga terasa penisku terjepit
ketat dan semakin seret. Gerak apapun yang kami
lakukan berdua membawa efek kenikmatan
tersendiri. Setelah lebih dari sepuluh menit , aku
menikmati tubuhnya dari atas, dia membuat suatu
gerakan dan aku tahu maksudnya, dia minta di
atas.
Aku tidur terlentang, kemudian bu Ita mengambil
posisi tengkurap di atasku sambil menyatukan alat
vital kami berdua. Bersetubuhlah kami kembali.Ia
memasukkan penisku rasanya ketat sekali
menghujam sampai dalam. Sampai beberapa saat
bu Ita menggerakkan pinggulnya, payudaranya
bergelantungan nampak indah sekali, kadang
menyapu wajahku. Aku meremas kuat-kuat
bongkahan pantatnya yang bergoyang-goyang.
Payudaranya disodorkan kemulutku, langsung
kudot. Gerakan wanita berambut sebahu ini makin
mempesona di atas tubuhku. Kadang seperti orang
berenang, atau menari yang berpusat pada gerakan
pinggulnya yang aduhai. Bayang-bayang gerakan
itu nampak indah di cermin sebelah ranjang.
Tubuh putih nan indah perempuan setengah baya
menaiki tubuh pemuda agak coklat kekuning-
kuningan. Benar-benar lintas generasi!
Adegan ini berlangsung lebih dari lima belas menit,
kian lama kian kencang dan cepat, gerakannya.
Nafasnya kian tidak teratur, sedikit liar. Kayak
mengejar setoran saja. Tanganku mempererat
rangulanku pada pantat dan pinggulnya, sementara
mulutku sesekali mengulum punting susunya.
Rasanya enak sekali. Setelah kerja keras majikanku
itu mendesah sejadi-jadinya”
“Ah… uh, eh… aku, ke.. luaar..Ron..”, rupanya ia
orgasme.
Puncak kenikmatannya diraihnya di atas tubuhku,
nafasnya berkejar-kejaran, terengah-engah
merasakan keenakan yang mencapai klimaknya.
Nafasnya berkejar-kejaran, gerakannya lambat laun
berangsur melemah, akhirnya diam. Ia menjadi
lemas di atasku, sambil mengatur nafasnya
kembali. Aku mengusap-usap punggung mulusnya.
Sesekali ia menggerak-gerakkan pinggulnya pelan,
pelan sekali, merasakan sisa-sisa puncak
kenikmatannya. Beberapa menit dia masih
menindih saya.
Setelah pulih tenaganya, dia tidur terlentang
kembali, siap untuk saya tembak lagi. Kini giliran
saya menindihnya, dan mulai mengerjakan
kegiatan seperti tadi. Gerakan ku pelan juga, dia
merangkul aku. Naik turun, keluar masuk. Saat
masuk itulah rasa nikmat luar biasa, apalagi dia
bisa menjepit-jepit, sampai beberapa kali. Sungguh
aku menikmati seluruhnya tubuh bu Ita. Ruaar
biasa! Tiba-tiba suatu dorongan tenaga yang kuat
sampai diujung senjataku, aliran darah, energi dan
perasaan terpusat di sana, yang menimbulkan
kekuatan dahsyat tiada tara. Energi itu menekan-
nekan dan memenuhi lorong-lorong rasa dan
perasaan, saling memburu dan kejar-kejaran.
Didorong oleh gairah luar biasa, menimbulkan efek
gerakan makin keras dan kuat menghimpit tubuh
indah, yang mengimbangi dengan gerakan gemulai
mempesona. Akhirnya tenaga yang menghentak-
hentak itu keluar membawa kenikmatan luar
biasa”, suara tak disengaja keluar dari mulut dua
insan yang sedang dilanda kenikmatan. Air maniku
terasa keluar tanpa kendali, menyemprot
memenuhi lubang kenikmatan milik bu Ita.
“Ahh… egh… egh… uhh”, suara kami bersaut-
sahutan.
Bibir indah itu kembali kulumat makin seru, diapun
makin merapatkan tubuhnya terutama pada bagian
bawah perutnya, kuat sekali. Menyatu semuanya,
“Aku” keluar Bu”, kataku terengah-engah.
“Aku juga Ron”, suaranya agak lemah.
“Lho keluar lagi, tadi kan sudah?! Kok bisa keluar
lagi?!”, tanyaku agak heran.
“Ya, bisa dua kali”, jawabnya sambil tersenyum
puas.
Kami berdua berkeringat, walau udara di luar
dingin. Rasanya cukup menguras tenaga, bagai
habis naik gunung saja, lempar lembing atau habis
dari perjalanan jauh, tapi saya masih bisa
merasakan sisa-sisa kenikmatan bersama. Selang
beberapa menit, setelah kenikmatan berangsur
berkurang, dan terasa lembek, saya mencabut
senjataku dan berbaring terlentang di sisinya
sambil menghela nafas panjang. Puas rasanya
menikmati seluruh kenikmatan tubuhnya.
Perempuan punya bentuk tubuh indah itupun
terlihat puas, seakan terlepas dari dahaganya, yang
terlihat dari guratan senyumnya. Saya lihat
selakangannya, ada ceceran air maniku putih
kental meleleh di bibir vaginanya bahkan ada yang
di pahanya. Pengalaman malam itu sangat
menakjubkan, hingga sampai berapa kali aku
menaiki bu Ita, aku lupa. Yang jelas kami beradu
nafsu hampir sepanjang malam dan kurang tidur.
Keesokan harinya. Busa-busa sabun memenuhi
bathtub, aku dan bu Ita mandi bersama, kami
saling menyabun dan menggosok, seluruh sisi-sisi
tubuhnya kami telusuri, termasuk bagian yang
paling pribadi. Yang mengasyikkan juga ketika dia
menyabun penisku dan mengocok-kocok lembut.
Saya senang sekali dan sudah barang tentu
membawa efek nikmat.
“Saya heran barang ini semalaman kok tegak terus,
kayak tugu Monas, besar lagi. Ukuran jumbo
lagi?!”, katanya sambil menimang-nimang tititku.
“Kan Ibu yang bikin begini?!”, jawabku. Kami
tersenyum bersama.
Sehabis mandi, kuintip lewat jendela kamar, Darti
sedang nyapu halaman depan, kalau aku keluar
rumah tidak mungkin, bisa ketahuan. Waktu baru
pukul setengah enam. Tetapi senjata ini belum juga
turun, tiba-tiba hasrat lelakiku kembali bangkit
kencang sekali. Kembali meletup-letup, jantung
berdetak makin kencang. Lagi-lagi aku mendekati
janda yang sudah berpakaian itu, dan kupeluk,
kuciumi. Saya agak membungkuk, karena aku lebih
tinggi. Bau wewangian semerbak disekujur
tubuhnya, rasanya lebih fresh, sehabis mandi. Lalu
ku lepas gaunnya, ku tanggalkan behanya dan
kuplorotkan cedenya. Kami berdua kembali
berbugil ria dan menuju tempat tidur. Kedua insan
lelaki perempuan ini saling bercumbu, mengulangi
kenikmatan semalam.
Ia terbaring dengan manisnya, pemandangan yang
indah paduan antara pinggul depan, pangkal paha,
dan rerumputan sedikit di tengah menutup samara-
samar huruf “V”, tanpa ada gumpalan lemaknya.
Aku buka dengan pelan kedua pahanya. Aku ciumi,
mulai dari lutut, kemudian merambat ke paha
mulusnya. Sementara tangannya mengurut-urut
lembut penisku. Tubuhku mulai bergetaran, lalu
aku membuka selakangannya, menyibakkan
rerumputan di sana. Aku ingin melihat secara jelas
barang miliknya. Jariku menyentuh benda yang
berwarna pink itu, mulai bagian atas membelai-
belainya dengan lembut, sesekali mencubit dan
membelai kembali. Bu Ita bergelincangan,
tangannya makin erat memegang tititku. Kemudian
jariku mulai masuk ke lorong, kemudian menari-
nari di sana, seperti malam tadi. Tapi bibir, dan
terowongan yang didominasi warna pink ini lebih
jelas, bagai bunga mawar yang merekah. Beberapa
saat aku melakukan permainan ini, dan menjadi
paham dan jelas betul struktur kewanitaan bu Ita,
yang menghebohkan semalam.
Gelora nafsu makin menggema dan menjalar
seantero tubuh kami, saling mencium dan
mencumbu, kian memanas dan berlari kejar-
kejaran. Seperti ombak laut mendesir-desir
menerpa pantai. Tiada kendali yang dapat
mengekang dari kami berdua. Apalagi ketika
puncak kenikmatan mulai nampak dan mendekat
ketat. Sebuah kejutan, tanpa aku duga sebelumnya
penisku yang sejak tadi di urut-urut kemudian
dikulum dengan lembutnya. Pertama dijilati
kepalanya, lalu dimasukkan ke rongga mulutnya.
Rasanya saya diajak melayang ke angkasa tinggi
sekali menuju bulan. Aku menjadi kelelahan. Sesi
berikutnya dia mengambil posisi tidur terlentang,
sementara aku pasang kuda-kuda, tengkurap yang
bertumpu pada kedua tangan saya. Saya mulai
memasukkan penisku ke arah lubang kewanitaan
bu Ita yang tadi sudah saya “pelajari” bagian-
bagiannya secara seksama itu. Benda ini memang
rasanya tiada tara, ketika kumasukkan, tidak hanya
saya yang merasakan enaknya penetrasi, tetapi
juga bu Ita merasakan kenikmatan yang luar biasa,
terlihat dari ekpresi wajahnya, dan desahan lembut
dari mulutnya.
“Ah”, desahnya setiap aku menekan senjataku ke
arah selakangannya, sambil menekankan pula
pinggulnya ke arah tititku. Kami berdua
mengulangi mengarungi samodra birahi yang
menakjubkan, pagi itu.
Semuanya sudah selesai, aku keluar rumah sekitar
pukul setengah delapan, saat Darti mencuci di
belakang. Dalam perjalanan pulang aku termenung,
Betapa kejadian semalam dapat berlangsung begitu
cepat, tanpa liku-liku, tanpa terpikirkan
sebelumnya. Sebuah wisata seks yang tak terduga
sebelumnya. Kenikmatan yang kuraih, prosesnya
mulus, semulus paha bu Ita. Singkat, cepat dan
mengalir begitu saja, namun membawa kenikmatan
yang menghebohkan. Betapa aku bisa merasakan
kehangatan tubuh bu Ita secara utuh, orang yang
selama ini menjadi majikanku. Menyaksikan rona
wajah bu Ita yang memerah jambu, kepasrahannya
dalam ketelanjangannya, menunjukkan kedagaan
seorang wanita yang mebutuhkan belaian dan
kehangatan seorang pria.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, si
kumbang muda makin sering mendatangi bunga
untuk mengisap madu. Dan bunga itu masih segar
saja, bahkan rasanya makin segar menggairahkan.
Memang bunga itu masih mekar dan belum juga
layu, atau memang tidak mau layu.
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Online Project management